mediamerahputih.id | SURABAYA – Langit senja di Halaman Tugu Pahlawan memerah keemasan, menyelimuti ratusan warga yang bersantai di tikar-tikar yang tersebar di halaman. Gelak tawa anak-anak, aroma makanan tradisional yang menggoda, dan alunan musik pop Jawa modern berpadu menciptakan harmoni sore yang hangat. Inilah Senja Budaya, acara interaktif yang menjadi bagian dari perayaan Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-733, sekaligus bukti bahwa monumen sejarah bisa menjadi ruang hidup bagi masyarakat.
Berbeda dengan konsep perayaan sebelumnya yang formal dan sering mengandalkan Night at the Museum, Senja Budaya membawa budaya langsung ke masyarakat. Tahun ini, Pemkot Surabaya menghadirkan suasana santai ala cangkrukan, dengan tikar estetik yang memudahkan warga menikmati senja sambil berinteraksi lintas generasi.
Baca juga :
Saidatul Ma’munah, Kepala UPTD Museum dan Gedung Seni Balai Budaya Kota Surabaya, menuturkan, “Kami ingin generasi muda dan keluarga bisa merasakan budaya dengan cara yang dekat dan santai. Kalau tahun lalu lebih jadul, kali ini kami padukan dengan sentuhan modern agar semua merasa betah.” katanya.

Di tengah atmosfer senja, stan-stan kuliner tradisional menarik perhatian pengunjung. Dari Kue Rangin, Putu, hingga Semanggi Suroboyo, makanan-makanan tempo dulu ini ditampilkan berdampingan dengan inovasi modern, memberi pengalaman rasa yang unik bagi anak muda masa kini. Saida menjelaskan,
“Kami ingin generasi muda bisa menelusuri sejarah Surabaya melalui rasa dan visual. Ini bagian dari misi pelestarian kuliner lokal yang mulai jarang ditemui.” imbuh ia.
Baca juga :
Analisis 7 Kebudayaan Universal pada Masyarakat Agar dapat Bertahan
Tak hanya memanjakan lidah, acara ini juga menghadirkan hiburan yang memadukan permainan tradisional untuk anak-anak. KORMI memfasilitasi area bermain, di mana anak-anak bisa bebas bergerak, sambil diiringi musik yang populer di kalangan remaja.
“ Kami ingin suasana sore di Tugu Pahlawan menjadi hidup, penuh tawa, dan interaksi antargenerasi,” tambah Saida.
Ratusan pengunjung telah menukarkan tiket masuk seharga Rp5.000 hingga sore hari, dan panitia menargetkan sekitar 10.000 orang hadir selama dua hari pelaksanaan acara yang berlangsung hingga pukul 22.00 WIB. Selain permainan dan kuliner, hiburan rakyat seperti Ludruk Luntas dan pertunjukan Ludruk RRI menambah daya tarik acara.
Baca juga :
Pengalaman Senja Budaya juga dirasakan Audina Putri, 18 tahun, salah satu remaja Surabaya yang datang bersama teman-temannya. Baginya, acara ini adalah pengalaman pertama menghadiri perayaan budaya di ruang terbuka di ikon sejarah kota.
“Suasananya ramai dan seru. Banyak anak-anak, remaja, dan orang tua. Menyenangkan karena ada live music, dan kita bisa kulineran bareng keluarga atau teman dengan santai,” ujarnya.
Daya tarik utama bagi Audina adalah kuliner tradisional. “Tertarik ke sini karena makanannya, Kak. Kami sudah mencoba nasi pecel, rasanya enak dan pas dinikmati sore-sore seperti ini,” katanya sambil tersenyum.
Ia berharap Pemkot Surabaya bisa lebih sering menyelenggarakan acara serupa agar generasi muda tetap mengenal makanan dan permainan tradisional.
Saidatul Ma’munah menegaskan, Tugu Pahlawan kini tak lagi sekadar monumen pengingat perjuangan pahlawan, tetapi juga ruang publik hidup yang menyatukan masyarakat, melestarikan tradisi, dan menumbuhkan keceriaan di bawah langit senja.
Baca juga :
“Ayo, khususnya anak-anak muda, datang ke Tugu Pahlawan. Nikmati makanan tradisional, permainan jadul, dan nonton Ludruk bareng-bareng di sini,” ajaknya.
Dengan kombinasi budaya, hiburan, dan kuliner tradisional, Senja Budaya menunjukkan bahwa ikon sejarah bisa menjadi tempat hidup, di mana masyarakat Surabaya merayakan kebersamaan, mengenal identitas kota, dan menikmati momen yang hangat dan akrab.(ton)





