mediamerahputih.id | SURABAYA — Pelaksanaan proyek drainase menggunakan material beton U-Ditch oleh Kelompok Masyarakat (Pokmas) “Bersama Kita Mandiri” atau Pokmas Bestari di wilayah Kelurahan Pegirian mendapat perhatian dari masyarakat. Sejumlah temuan di lapangan, mulai dari kondisi material yang rusak hingga dampak pekerjaan terhadap lingkungan warga, memunculkan pertanyaan terkait kualitas pekerjaan, pengawasan, dan tanggung jawab pelaksana proyek.
Pantauan di lokasi menemukan beberapa unit U-Ditch yang telah terpasang mengalami keretakan hingga pecah. Kondisi tersebut menjadi sorotan karena material yang diduga mengalami kerusakan masih terlihat digunakan dalam pekerjaan pembangunan saluran drainase.
Baca juga :
Hujan Ekstrem Picu Banjir di Surabaya, Eri Cahyadi Buka Suara Soal Proyek Drainase
Warga mempertanyakan mekanisme pengawasan yang dilakukan selama proses pengerjaan, khususnya terkait pemeriksaan kelayakan material sebelum dipasang. Masyarakat meminta kejelasan apakah setiap material telah melalui pemeriksaan teknis dan dilengkapi berita acara sebelum dinyatakan memenuhi standar pekerjaan.
Selain persoalan material, warga juga mengeluhkan sistem pembuangan air limbah rumah tangga yang belum terhubung dengan saluran U-Ditch. Sejumlah saluran pembuangan disebut masih mengalir secara langsung tanpa adanya pipa penghubung menuju saluran drainase. Kondisi tersebut menyebabkan air limbah berpotensi meluber ke area sekitar dan mengganggu kebersihan lingkungan.
Baca juga :
Diduga Wartawan Dibatasi Liput Proyek Sekolah Dispendik Surabaya
Dampak lain dirasakan oleh sejumlah warga yang mengaku harus mengeluarkan biaya pribadi untuk memperbaiki akses menuju rumah mereka akibat pekerjaan proyek. Perbaikan mandiri dilakukan agar kendaraan dan aktivitas penghuni rumah tetap dapat berjalan dengan baik.

Atas kondisi tersebut, warga mempertanyakan apakah sebelumnya terdapat kesepakatan tertulis dalam musyawarah Pokmas yang mengatur kewajiban masyarakat menanggung biaya pemulihan akses rumah akibat pelaksanaan proyek. Jika tidak terdapat kesepakatan, warga meminta kejelasan mengenai pihak yang bertanggung jawab terhadap biaya yang telah mereka keluarkan.
Baca juga :
Pekerja Proyek Drainase di Surabaya Tewas Diduga Tertimpa Box Culvert
Temuan berikutnya adalah keberadaan tiang utilitas berbahan besi yang masih tertanam di jalur pemasangan U-Ditch. Secara teknis, posisi tersebut dinilai berpotensi memengaruhi kapasitas saluran karena dapat mempersempit penampang, menghambat aliran air, meningkatkan risiko penyumbatan, serta mengurangi efektivitas fungsi drainase.
Hingga saat ini, belum terdapat penjelasan secara rinci mengenai apakah keberadaan tiang utilitas tersebut telah melalui kajian teknis dan sesuai dengan ketentuan pelaksanaan konstruksi drainase.
Saat dikonfirmasi mengenai berbagai temuan tersebut, Lurah Pegirian Tomy Andrianto menyampaikan bahwa pihaknya masih menunggu material pengganti untuk mengganti U-Ditch yang mengalami kerusakan.
“Masih menunggu material pengganti untuk U-Ditch yang pecah maupun retak,” kata Tomy Andrianto.
Baca juga :
Proyek Paving Kalilom Lor Diduga Bermasalah, Kabid DSDABM: Sesuai Standar Teknis
Pernyataan tersebut menunjukkan adanya rencana penggantian terhadap material yang mengalami kerusakan. Namun, warga berharap penyelesaian tidak hanya berfokus pada penggantian U-Ditch, tetapi juga mencakup evaluasi menyeluruh terhadap kualitas pekerjaan, proses pengawasan, serta dampak yang muncul selama pelaksanaan proyek.

Masyarakat meminta Pokmas Bestari, Kelurahan Pegirian, dan instansi teknis terkait melakukan pemeriksaan secara terbuka terhadap seluruh pekerjaan. Mereka berharap proyek yang menggunakan anggaran pemerintah tersebut dapat memenuhi standar teknis, tidak menimbulkan kerugian bagi warga, serta memberikan manfaat sesuai tujuan pembangunan infrastruktur drainase.(fdy/jis)






