Scroll untuk baca artikel
Iklan MMI
Iklan MMI
Peristiwa

Potensi Gempa Ada, Warga Surabaya Diminta Tak Panik dan Tetap Siap

66
×

Potensi Gempa Ada, Warga Surabaya Diminta Tak Panik dan Tetap Siap

Sebarkan artikel ini

BPBD Surabaya Ingatkan Warga Siaga Hadapi Potensi Gempa

potensi-gempa-ada-warga-surabaya-diminta-siap
Kesiapsiagaan menjadi faktor utama dalam mengurangi risiko dampak bencana | MMP | dok pemkot
mediamerahputih.id | SURABAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memperkuat kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi gempa bumi. Langkah tersebut dilakukan melalui edukasi mitigasi, peningkatan pemahaman kebencanaan, serta penguatan sarana pendukung seperti jalur evakuasi dan titik kumpul di lingkungan warga.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Surabaya, Yanu Mardianto, meminta masyarakat tidak panik terhadap informasi mengenai keberadaan sesar aktif maupun potensi gempa di wilayah Surabaya.

Menurutnya, informasi terkait risiko bencana perlu dipahami secara menyeluruh agar masyarakat dapat meningkatkan kewaspadaan tanpa menimbulkan kekhawatiran berlebihan. Potensi gempa memang ada, namun waktu terjadinya tidak dapat dipastikan.

Baca juga :

El Niño Diprediksi hingga 2027, Surabaya Waspadai Kemarau Panjang

“Potensi itu memang ada, tetapi bukan berarti kita dapat memastikan kapan gempa akan terjadi. Karena itu, yang perlu dilakukan adalah meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat terhadap kemungkinan terjadinya gempa,” ujar Yanu, Jumat (11/9/2026).

Ia menjelaskan, BPBD Surabaya telah melakukan koordinasi serta verifikasi terhadap informasi mengenai keberadaan patahan atau sesar di wilayah tersebut. Berdasarkan sejumlah kajian, terdapat indikasi sesar yang teridentifikasi melalui pemetaan dengan pendekatan dan skala yang berbeda.

Perbedaan hasil pemetaan, kata Yanu, merupakan bagian dari proses kajian ilmiah kebencanaan. Karena itu, informasi mengenai jumlah maupun lokasi sesar harus dipahami berdasarkan konteks penelitian dan tidak langsung dikaitkan sebagai tanda bahwa gempa akan segera terjadi.

Baca juga :

Ramai Isu Harus Tunjukkan STNK di SPBU, Pertamina: Bukan Kebijakan Nasional

“Data kebencanaan perlu kita lihat berdasarkan metode dan skala pemetaannya. Yang terpenting bagi masyarakat bukan memperdebatkan jumlahnya, tetapi memahami bahwa ada potensi risiko yang perlu diantisipasi bersama,” jelasnya.

Yanu menegaskan, kesiapsiagaan menjadi faktor utama dalam mengurangi risiko dampak bencana. BPBD Surabaya secara berkelanjutan melakukan sosialisasi mitigasi kepada masyarakat, termasuk edukasi mengenai jalur evakuasi, penentuan titik kumpul, serta langkah penyelamatan diri saat terjadi gempa.

“Yang paling penting adalah bagaimana masyarakat siap. Kami melakukan sosialisasi mitigasi, termasuk bagaimana mengenali jalur evakuasi, menentukan titik kumpul, serta memahami apa yang harus dilakukan ketika terjadi gempa,” katanya.

potensi-gempa-ada-warga-surabaya-diminta-siap
BPBD Surabaya mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi mengenai gempa yang beredar di media sosial tanpa sumber yang jelas. Informasi kebencanaan sebaiknya diperoleh melalui kanal resmi dan lembaga berwenang agar tidak memicu kepanikan | MMP | dok

Menurut Yanu, edukasi kebencanaan bertujuan membangun kemampuan masyarakat agar dapat mengambil keputusan secara cepat dan tepat ketika menghadapi kondisi darurat. Kesiapan tersebut perlu dimulai dari tingkat keluarga, lingkungan tempat tinggal, hingga wilayah kampung dan kelurahan.

Baca juga :

Kasus Perjokian Masuk Kedokteran, Jaksa Ungkap Jalur Belakang hingga DP Rp300 Juta

Selain meningkatkan pemahaman masyarakat, BPBD Surabaya juga terus mendorong terbentuknya lingkungan yang lebih tangguh terhadap bencana. Pengetahuan mengenai risiko, rencana evakuasi, lokasi aman, hingga prosedur penyelamatan menjadi bagian penting dalam membangun budaya kesiapsiagaan.

Yanu juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi mengenai gempa yang beredar di media sosial tanpa sumber yang jelas. Informasi kebencanaan sebaiknya diperoleh melalui kanal resmi dan lembaga berwenang agar tidak memicu kepanikan.

Baca juga :

Pertamina Hentikan Pasokan Biosolar SPBU Subang, Diduga Langgar Penyaluran Subsidi

“Jadi bukan panik, tetapi waspada dan siap. Kalau masyarakat sudah memahami apa yang harus dilakukan, ketika terjadi gempa mereka tidak lagi bingung menentukan langkah penyelamatan,” ujarnya.

Ia menyebutkan, Indonesia merupakan wilayah dengan aktivitas tektonik yang tinggi sehingga kesiapsiagaan menghadapi bencana harus menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Namun, kondisi tersebut tidak perlu disikapi dengan rasa takut berlebihan.

“Mitigasi itu harus dilakukan sebelum bencana terjadi. Masyarakat perlu tahu risikonya, tahu jalur evakuasinya, tahu titik kumpulnya, dan tahu bagaimana menyelamatkan diri. Dengan begitu, ketika terjadi keadaan darurat, kita sudah lebih siap,” tandas Yanu. (ton)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *