Scroll untuk baca artikel
Iklan MMI
Iklan MMI
Peristiwa

HUT RI ke-81, Majelis Dzikir Qutubul Amin Tampilkan Paskibra Gen Z Bertarekat

7
×

HUT RI ke-81, Majelis Dzikir Qutubul Amin Tampilkan Paskibra Gen Z Bertarekat

Sebarkan artikel ini

Paskibra Gen Z Bertarekat

hut-ri-ke-81-majelis-dzikir-qutubul-amin
Pembina Yayasan SQA Ibunda Dra Hj Erlina Kadirun Yahya (tengah, berbusana ungu) dan keluarga besar SQA, serta sebagian remaja puteri anggota Paskibra SQA | MMP | dok SQA
mediamerahputih.id | DEPOK – Majelis Dzikir Surau Qutubul Amin (SQA) menggelar upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 di lapangan serbaguna Surau Qutubul Amin, Kelurahan Duren Seribu, Kecamatan Bojongsari, Depok, Senin (17/8/2026).

Upacara tersebut diikuti jamaah Majelis Dzikir SQA yang merupakan pengamal tarekat Naqsyabandiyah Al Khalidiyah dari berbagai wilayah Jabodetabek. Kegiatan ini digelar untuk mengenang jasa para pahlawan, syuhada, dan pejuang kemerdekaan Indonesia.

Ketua Majelis Silaturahmi Qutubul Amin, H Suroso Surya Atmadja, mengatakan pelaksanaan upacara kemerdekaan telah menjadi tradisi yang diwariskan oleh guru rohani tarekat tersebut sejak sebelum wafat.

“Upacara peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI seperti ini sudah dilazimkan Guru Rohani tarekat kami sejak beliau belum berlindung (wafat),” ujar Suroso.

Baca juga :

Ribuan Massa Jalan Sehat Qutubul Amin Meluber di Sawangan, Sekda Depok: Ini bisa Masuk MURI

Upacara tersebut turut dihadiri Pembina Yayasan Qutubul Amin, Dra Hj Erlina Kadirun Yahya, yang merupakan istri dari Maulana Prof Dr Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya Muhammad Amin Al Khalidi, tokoh spiritual tarekat Naqsyabandiyah Al Khalidiyah.

Selain itu, hadir pula Ketua Yayasan Qutubul Amin Ir Surya Yudha, pengurus yayasan, serta sejumlah fungsionaris SQA, di antaranya Irjen Pol (Purn) Istiono dan Brigjen Pol (Purn) Eko Nugrohadi. Petugas tarekat dari berbagai wilayah Jabodetabek juga mengikuti rangkaian kegiatan tersebut.

Menurut Suroso, Prof Dr Kadirun Yahya memiliki latar belakang perjuangan pada masa revolusi fisik Indonesia. Ia disebut pernah berperan sebagai prajurit veteran berpangkat jenderal bintang satu pada masa pemerintahan Presiden Soekarno serta terlibat dalam perjuangan kemerdekaan.

Baca juga :

Surau Qutubul Amin Apresiasi Kunjungan TransJakarta Bahas Pengelolaan Lingkungan yang Bersih

“Pasca kemerdekaan, beliau sebagai tokoh sufi dunia yang diakui Presiden Soekarno turut berperan dalam pembebasan Irian Barat dari penguasaan kolonial,” kata Suroso.

hut-ri-ke-81-majelis-dzikir-qutubul-amin
Paskibra Gen Z bertarekat curi perhatian dalam Upacara HUT RI ke-81 – Aksi Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) yang beranggotakan 25 remaja dari kalangan pelajar SMP hingga mahasiswa. Para anggota Paskibra tersebut merupakan generasi muda yang mengikuti tarekat | MMP | dok SQA

Dalam pelaksanaan upacara, perhatian peserta tertuju pada aksi Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) yang beranggotakan 25 remaja dari kalangan pelajar SMP hingga mahasiswa. Para anggota Paskibra tersebut merupakan generasi muda yang mengikuti tarekat.

Salah satu anggota Paskibra, Reno, mengatakan dirinya mengikuti tarekat atas arahan orang tuanya. Ia mengaku telah mengikuti delapan kali kegiatan suluk.

“Saya masuk tarekat diarahkan papa dan mama. Saya delapan kali suluk. Sebagian besar anggota Paskibra juga sudah masuk tarekat,” ujar Reno.

Baca juga :

Puncak Haul ke-25 Ulama Tasawuf Prof Kadirun Yahya di Surau Qutubul Amin

Pasukan tersebut menjalankan berbagai rangkaian atraksi, mulai dari variasi baris-berbaris hingga pengibaran bendera merah putih. Penampilan mereka mendapat perhatian dari para undangan yang hadir.

Pelatihan Paskibra dilakukan oleh Serda (Purn TNI AD) Sarjito, yang juga merupakan jamaah SQA. Menurut peserta upacara, kualitas penampilan Paskibra tersebut tidak berbeda jauh dengan pasukan pengibar bendera pada umumnya.

“Latihan selama dua bulan. Suasana latihan enjoy, tidak berat dan stres, hasilnya ya kata orang-orang sih bagus,” kata Reno.

Selain menampilkan kekhidmatan upacara, kegiatan tersebut juga memperlihatkan keberagaman busana peserta. Jamaah hadir dengan mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah serta seragam batik sebagai bentuk ekspresi nasionalisme.

Salah satu peserta upacara, Ade, mengaku terkesan melihat suasana kegiatan yang berbeda dari pandangannya sebelumnya mengenai jamaah tarekat.

“Tidak menyangka karena orang tarekat itu kan khusyuk wiridan,” ujarnya.

Baca juga :

Menko Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin dan Ribuan Jamaah Tarekat Rayakan Hari Guru di Surau Qutubul Amin

Dalam amanat upacara, Inspektur Upacara Suyanto menyampaikan pesan yang mengutip lima pedoman hidup ajaran Prof Dr Kadirun Yahya, yaitu beribadah sebagaimana Nabi dan Rasul beribadah, memiliki prinsip sebagai pengabdi, mengabdi sebagai pejuang, berjuang sebagai prajurit, serta berkarya dalam pembangunan sebagai pemilik.

Usai upacara, rangkaian peringatan HUT RI ke-81 dilanjutkan dengan kegiatan syukuran setelah salat zuhur di Pendopo Agung Surau Qutubul Amin. Kegiatan tersebut turut mengundang aparat wilayah setempat.

Syukuran ditandai dengan penyembelihan satu ekor sapi yang kemudian dagingnya disajikan dalam acara makan bersama para tamu undangan. Kegiatan juga dimeriahkan penampilan grup musik Surau Qutubul Amin.

Suroso mengatakan penyembelihan sapi dilakukan sejak tengah malam sebagai bagian dari tradisi peringatan HUT RI di lingkungan SQA. Ia juga mengajak peserta mendoakan masyarakat yang terdampak bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Aceh.

Prof Dr Kadirun Yahya dikenal sebagai ahli silsilah ke-35 tarekat Naqsyabandiyah Al Khalidiyah. Sejak dekade 1950-an, ia mengembangkan bidang pendidikan hingga mendirikan Akademi Metafisika pada 1961 yang kemudian berkembang menjadi Universitas Panca Budi.

Selain itu, ia juga melakukan kajian mengenai tarekat melalui pendekatan ilmiah yang disebut sebagai “Teknologi Metafisika Al-Qur’an”.

Baca juga :

Menteri Kebudayaan Fadli Zon Apresiasi Kurban Massal di Surau Qutubul Amin Depok

“Pasca perjuangan era revolusi fisik, beliau mengajarkan bagaimana berjuang tidak hanya dengan fisik, tetapi juga disertai doa,” kata Suroso.

Melalui kegiatan pendidikan dan pengembangan tarekat, ajaran Prof Dr Kadirun Yahya kemudian berkembang di berbagai daerah di Indonesia hingga luar negeri. Surau Qutubul Amin juga secara rutin melaksanakan kegiatan suluk bagi jamaahnya.(ton)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *