mediamerahputih.id | ACEH SELATAN – Di balik nama-nama besar pahlawan seperti Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien, tersembunyi satu nama yang hampir terlupakan oleh sejarah bangsa Indonesia. Ia adalah Teuku Cut Ali. Meskipun jarang disebut, sosoknya adalah panglima perang yang tangguh dan pemimpin gerilya yang memperjuangkan kemerdekaan dengan segenap jiwa, khususnya di wilayah Aceh Selatan.
Lahir sekitar akhir abad ke-19 di Trumon, Teuku Cut Ali adalah keturunan bangsawan yang tumbuh menjadi seorang pejuang tangguh. Pada tahun 1925 hingga 1927, ia memimpin pasukan gerilya dalam perlawanan sengit terhadap kolonial Belanda. Di mata masyarakat Kluet Selatan, Bakongan, dan Trumon, nama Teuku Cut Ali bukanlah hal asing. Ia dikenal sebagai pemimpin yang berjuang mempertahankan tanah, agama, dan martabat rakyat Aceh di tengah tekanan Belanda yang berusaha menghancurkan tatanan adat dan nilai-nilai keislaman.
Baca juga :
Kapolri Tolak Polri di Bawah Kementerian, Pakar: Kunci Utama Soal Independensi
Dalam pertempuran yang tidak seimbang, Teuku Cut Ali hanya mengandalkan persenjataan sederhana seperti kelewang, sementara Belanda mengerahkan pasukan Marsose lengkap dengan senjata modern. Meskipun demikian, semangat jihad dan keberanian Teuku Cut Ali bersama pasukannya tetap berkobar.
Namun, perjuangannya tidak berlangsung tanpa hambatan. Menurut catatan dalam buku Sejarah Perjuangan Bangsa di Bagian Barat Nusantara (1874–1928) Daerah Aceh Selatan, Belanda menggunakan taktik licik untuk melacak persembunyian Teuku Cut Ali, termasuk dengan mengintimidasi warga lokal dan menawarkan hadiah bagi siapa saja yang bersedia membocorkan lokasi persembunyiannya.

Pada akhirnya, pengkhianatan muncul. Seorang informan mengungkapkan jejak persembunyian Teuku Cut Ali di Alue Beberang, dekat aliran sungai. Pasukan Belanda yang dipimpin Kapten Gosenson pun melancarkan serangan mendadak. Tanpa persiapan yang matang, pasukan Teuku Cut Ali pun terpaksa mundur.
Baca juga :
Dalam pertempuran tersebut, tragedi besar terjadi. Istri Teuku Cut Ali, Fatimah, yang sedang mengandung, gugur tertembak di medan perang. Sejumlah tokoh pejuang lain seperti Nyak Meutia, Imam Sabil, dan Teuku Nago juga turut gugur. Dalam keadaan duka dan marah, Teuku Cut Ali melakukan perlawanan terakhir sebelum akhirnya gugur di medan pertempuran.
Kisah wafatnya meninggalkan luka mendalam. Menurut berbagai sumber, jasad Teuku Cut Ali diperlakukan dengan cara yang tidak manusiawi oleh Belanda. Kepalanya dipenggal dan diarak sebagai bentuk teror kepada masyarakat Aceh, agar tidak ada lagi yang berani melawan kolonialisme. Beberapa versi bahkan menyebutkan bahwa kepala Teuku Cut Ali dibawa ke Belanda sebagai simbol kemenangan Belanda atas perjuangan rakyat Aceh.
Baca juga :
Pemulihan Aset Lintas Negara hingga Pemidanaan Korporasi Jadi Tantangan Hukum Pidana Ekonomi
Meskipun kisah perjuangannya menginspirasi banyak orang, terdapat perbedaan pendapat mengenai keturunan Teuku Cut Ali. Sebagian masyarakat percaya bahwa ia tidak memiliki keturunan karena keluarganya gugur dalam peristiwa tersebut, sementara sebagian sumber lain menyebutkan bahwa Teuku Cut Ali memiliki beberapa istri dan anak yang tersebar di berbagai wilayah Aceh.
Yang jelas, Teuku Cut Ali tetap menjadi simbol perlawanan rakyat Aceh Selatan terhadap penjajahan Belanda. Meskipun begitu, hingga kini namanya belum mendapatkan pengakuan resmi sebagai pahlawan nasional, meskipun pengorbanan dan perjuangannya adalah bagian penting dari sejarah panjang perlawanan rakyat Aceh terhadap kolonialisme.
Baca juga :
Seperti Apa Budaya Etika seorang Muslim? Begini menurut Dalil Al-Quran
Dalam upaya mengangkat kisah para pahlawan daerah, intelektual muda Syahrul Amin mengusulkan pentingnya integrasi sejarah lokal ke dalam pendidikan di sekolah-sekolah. Menurutnya, mengumpulkan dan memperkenalkan kisah para pahlawan seperti Panglima Rajo Lelo, Teuku Cut Ali, Teungku Raja Ankasah, dan lainnya, dapat menjadi materi tambahan dalam pelajaran PKN di SD, SMP, dan SMA. Ini penting agar generasi muda mengenal sejarah perjuangan tanah Aceh Selatan dalam melawan penjajahan.
Sejarah perjuangan ini harus hidup di ingatan generasi muda, agar mereka memahami betapa besar pengorbanan para pahlawan kita menghargai warisan sejarah Aceh Selatan.
Penulis adalah Syahrul Amin anggota Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Aceh





