mediamerahputih.id | SURABAYA – Aksi unjuk rasa ratusan jagal serta pedagang daging dari Rumah Potong Hewan (RPH) Pegirian pecah di Balai Kota Surabaya, Senin (12/1/2026) siang. Aksi penolakan relokasi RPH Pegirian ke Tambak Osowilangun itu sempat berujung ricuh ketika massa berupaya memaksa masuk ke dalam gedung untuk bertemu Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi.
Sejak pagi, massa berorasi di depan gerbang sisi timur Balai Kota. Barikade kawat berduri dipasang, sementara personel kepolisian dan Satpol PP berjaga ketat di sejumlah titik untuk menahan massa agar tidak masuk ke area perkantoran.
Di tengah kerumunan, puluhan ibu-ibu pedagang daging tampak paling emosional. Mereka ikut mendorong barikade pengamanan sambil berteriak meminta audiensi langsung dengan wali kota. Penolakan relokasi, menurut mereka, belum pernah dijawab secara pasti oleh Pemkot Surabaya.
Baca juga :
Tolak Relokasi RPH, Ratusan Jagal Pegirian Bawa 4 Sapi Kepung Balai Kota Surabaya
Kericuhan memuncak di pintu masuk utama Balai Kota. Massa menggedor pintu kaca hingga terdengar suara retakan. Beberapa pot bunga di sekitar pintu masuk dilaporkan rusak akibat dorongan massa yang semakin tidak terkendali.
Petugas kepolisian dan Satpol PP yang berada di dalam gedung berusaha menahan pintu kaca agar tidak pecah, sekaligus mencegah massa masuk ke area kerja pemerintahan. Setelah beberapa saat, Satpol PP akhirnya membubarkan massa dari pintu utama Balai Kota.

Baca juga :
Sidang Pemerasan Kadindik Jatim, Hakim Soroti Peran Hendra Pemberi Uang Tak Ditangkap
Situasi berangsur kondusif, meski pengamanan tetap diperketat hingga sore hari. Namun, sejumlah perwakilan massa menegaskan aksi penolakan akan terus dilakukan sampai Pemkot Surabaya membatalkan rencana relokasi RPH Pegirian ke Tambak Osowilangun.
RPH TOW Siap Beroperasi, Jamin Pasokan Daging Aman
Di sisi lain, aksi mogok massal para jagal di RPH Pegirian sempat memicu kekhawatiran masyarakat soal pasokan daging segar. Menanggapi hal itu, manajemen PT Rumah Potong Hewan (RPH) Surabaya Perseroda memastikan ketersediaan daging sapi di Kota Surabaya masih dalam kondisi aman.
Direktur Utama PT RPH Surabaya Perseroda, Fajar Arifianto Isnugroho, menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas dampak mogok kerja tersebut. Ia mengakui aksi mogok membuat sebagian warga kesulitan memperoleh daging segar.
Baca juga :
Terduga Pelaku Pengusiran Nenek Elina 80 Tahun, Dibekuk Polisi
Meski demikian, Fajar menegaskan stok daging sapi masih mencukupi. Berdasarkan hasil pemantauan tim monitoring, pemotongan sapi tetap berjalan di unit RPH Kedurus sehingga pasokan ke masyarakat tetap terjaga.
Selain itu, masyarakat masih dapat memperoleh daging sapi melalui outlet resmi RPH Surabaya maupun pasar tradisional. Sebanyak 11 outlet di pasar tradisional tetap disuplai oleh mitra jagal dari Kedurus.
Baca juga :
Konflik Apartemen Bale Hinggil, Wali Kota Eri: Fasilitas Dasar Dimatikan itu Melanggar
Terkait relokasi, Fajar menegaskan yang dipindahkan hanyalah lokasi pemotongan sapi, bukan pusat perdagangan daging. “Pasar Daging Arimbi sebagai sentra perkulakan daging di Surabaya dipastikan tetap beroperasi di Pegirian, Jalan Arimbi.” katanya, Selasa (13/01).
Manajemen RPH Surabaya memberikan waktu hingga akhir Idulfitri 2026 bagi jagal Pegirian untuk memanfaatkan fasilitas lama. “Selama masa transisi Januari hingga Maret, aktivitas pemotongan akan dijalankan secara paralel di RPH Pegirian dan RPH Tambak Osowilangun (TOW).” Terang Fajar
Baca juga :
Konflik Jalan Ditembok di Asem Jajar III, BPN Diminta Ukur Ulang
Menurut Fajar, masa transisi diperlukan untuk memastikan kesiapan teknis dan operasional RPH TOW, termasuk kelengkapan fasilitas dan sertifikasi halal. “Kebutuhan daging sapi di Surabaya mencapai sekitar 40 ton per hari, dengan sekitar 20 ton dipenuhi dari pemotongan di RPH Surabaya.” Ujarnya.
Fajar juga menegaskan jagal Pegirian tetap menjadi prioritas utama untuk beroperasi di RPH TOW. Meski terdapat minat dari jagal luar daerah, manajemen masih memfokuskan pengisian operasional kepada jagal Pegirian.
Baca juga :
15 Bangunan Liar di bawah Jembatan Layang Tambak Mayor Dibongkar
Ia menyebut RPH TOW secara fasilitas telah siap beroperasi dan lebih modern dibandingkan RPH Pegirian yang hampir berusia satu abad. Fasilitas tersebut mampu menampung ratusan ekor sapi dengan sistem pengolahan limbah yang lebih maksimal.
Dalam sepekan ke depan, RPH Surabaya akan melakukan pemotongan mandiri untuk menjaga pasokan daging. Fajar berharap aksi mogok tidak berlarut-larut karena berpotensi merugikan jagal sendiri jika pelanggan beralih ke pemasok lain.(dms)





