mediamerahputih.id | SURABAYA – Mahasiswa UNESA Program Magister Pendidikan Sains, Fatimatuz Zahro, mengembangkan media pembelajaran digital berupa Virtual Laboratory ALIRA (V-Lab ALIRA) dan Augmented Reality (AR) untuk membantu siswa memahami materi sistem peredaran darah yang selama ini dianggap sulit dan abstrak.
Inovasi pembelajaran tersebut ia dikembangkan melalui penelitian yang dibimbing oleh Prof. Dr. Eko Hariyono, S.Pd., M.Pd. dan Dr. Binar Kurnia Prahani, S.Pd., M.Pd. Penelitian ini bertujuan meningkatkan literasi sains siswa melalui pembelajaran yang lebih kontekstual, interaktif, dan berbasis teknologi.
Baca juga :
Mahasiswa UNESA Kembangkan Sistem Penyiraman Tanaman Otomatis Berbasis IoT untuk Pembelajaran di SMP
Materi sistem peredaran darah kerap menuntut kemampuan hafalan yang tinggi, sehingga menyulitkan siswa dalam memahami proses biologis secara menyeluruh. Melalui pendekatan Problem Based Learning (PBL), siswa diajak menganalisis permasalahan nyata, seperti kasus penyumbatan pembuluh darah akibat pola hidup tidak sehat, sebagai pintu masuk untuk mempelajari konsep sirkulasi darah secara ilmiah.
Dalam V-Lab ALIRA, siswa dapat melakukan simulasi aliran darah, membandingkan kondisi pembuluh darah normal dan tersumbat, serta mengamati perubahan tekanan dan kecepatan aliran yang disajikan dalam bentuk grafik digital. Media ini memungkinkan siswa belajar melalui eksplorasi dan pengamatan, bukan sekadar membaca teks.
Baca juga :
Mahasiswa UNESA Edukasi Pemanasan Global dengan Kalkulator Karbondioksida
Sementara itu, teknologi Augmented Reality menampilkan model jantung tiga dimensi yang dapat diputar hingga 360 derajat, diperbesar, dan diamati secara detail. Visualisasi tersebut membantu siswa memahami struktur jantung dan jalur peredaran darah secara lebih konkret.

“Dengan visualisasi dan simulasi, siswa tidak lagi sekadar menghafal, tetapi memahami prosesnya secara utuh dan mengaitkannya dengan kesehatan sehari-hari,” ujar Fatimatuz Zahro.
Baca juga :
Dosen IPA UNESA Gelar Pelatihan Pembelajaran Interaktif Berbasis Video
Hasil uji coba media pembelajaran ini di tingkat sekolah menengah pertama menunjukkan bahwa V-Lab ALIRA dan AR tergolong valid, praktis, dan efektif. Siswa dilaporkan lebih aktif dalam diskusi serta mengalami peningkatan kemampuan menjelaskan fenomena ilmiah dan membaca data.
Prof. Dr. Eko Hariyono menilai, integrasi teknologi seperti virtual laboratory dan Augmented Reality merupakan strategi penting dalam pembelajaran sains abad ke-21. Menurutnya, pembelajaran sains seharusnya tidak hanya menekankan penguasaan konsep, tetapi juga melatih cara berpikir ilmiah siswa.
Baca juga :
Dosen IPA UNESA Gelar Pelatihan Pembelajaran Interaktif Berbasis Video
Inovasi pembelajaran digital ini diharapkan dapat menjadi alternatif pembelajaran IPA yang lebih relevan dengan perkembangan teknologi serta menjawab kebutuhan generasi digital saat ini.(red)





