Antisipasi Varian MU, Pemerintah Diminta Tak Ragu Tutup Akses Masuk WNA


Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani Aher | MMP | dok.

Merah Putih | JAKARTA - Tak ingin kecolongan dengan kasus melandainya virus Corona. Kini varian corona Mu menjadi atensi pemerintah agar tak menyebar di Indonesia.

Diketahui pertama kali virus itu ditemukan di Kolombia pada Januari 2021. Virus varian baru ini kemudian menyebar ke sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Amerika Selatan,Eropa, Inggris dan Hong Kong dikabarkan sudah mulai terserang varian Mu.

Tak ingin menyebar, Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani Aher mendukung langkah pemerintah untuk memperketat akses masuk bagi warga negara asing (WNA) demi mencegah masuknya Varian Of Interest (VOI) Covid-19 seperti varian MU.

“Jika diperlukan, pemerintah jangan ragu menutup akses masuk sementara. Keselamatan rakyat yang terancam karena masuknya varian baru harus diutamakan dari kepentingan apapun," terang Netty saat rapat kerja Komisi IX DPR RI dengan Menteri kesehatan dan Menteri Keuangan serta juga Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19 di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (13/9/2021).

Netty mengungkapkan, menurut Centers for Control Disease and Prevention (CDC), varian virus yang masuk kategori ini menyebabkan peningkatan klaster kasus Covid-19. Saat ini varian Mu sendiri sudah ditemukan di 46 negara termasuk di negara Asia seperti Korea Selatan, Jepang dan Hongkong.

Varian ini masih dalam pantauan dan diduga akan menimbulkan reaksi yang lebih parah pada pasien yang terinfeksi ketimbang virus Corona lainnya.

“Saat ini varian MU memang belum terdeteksi di Indonesia, tapi tidak ada jaminan keadaan akan terus aman. Apalagi varian ini dapat menyebabkan reaksi yang lebih parah. Pemerintah harus lebih ketat dalam skrining, karantina  dan  monitoring  terhadap WNA maupun WNI dari luar negeri. Jangan sampai terjadi imported case sebagaimana pada kasus varian delta, yang memicu lonjakan kasus," ujarnya.

Selain itu, desak Legislator partai keadilan sejahtera (PKS) ini, pemerintah harus meningkatkan pemeriksaan whole genome sequencing, yaitu pemeriksaan sampel  virus  guna  mengetahui kode genetik varian dan  mutasinya.

"Saat ini genome sequencing kita baru di angka 5.000 sampai 6.000. Sementara negara-negara lain, genome sequencing-nya sudah ada di angka puluhan dan bahkan ratusan ribu pemeriksaan. Pemerintah harus segera meningkatkan pemeriksaan ini  agar dapat  memantau perkembangan varian yang ada," ungkapannya. Netty turut mengusulkan agar pemerintah membuka opsi vaksin booster kepada kelompok masyarakat rentan, terutamnya lansia yang memiliki penyakit penyerta. Sebab, ada dugaan varian MU tersebut mampu menurunkan efikasi vaksin.

“Kelompok rentan seperti lansia berpotensi  terpapar kembali. Oleh karena itu perlu  diberikan vaksin booster seperti yang diterima oleh para nakes," tutur Netty.

Ia juga menyampaikan opsi ini lebih cocok dipilih daripada membuka opsi vaksin booster berbayar sebagaimana pernyataan pemerintah beberapa waktu sebelumnya.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) megklaim hingga saat ini varian Mu belum terdeteksi di Indonesia. Kendati demikian masyarakat tetap diminta waspada terhadap kemungkinan gelombang ketiga Covid-19 apabila masyarakat enggan patuh terhadap protokol Kesehatan (Prokes).

Wakil Menteri Kesehatan RI dr. Dante Saksono Harbuwono mengatakan, pihaknya telah melakukan genom sekuensing terhadap 7 ribuan orang di Indonesia dan belum terdeteksi varian Mu.

"Varian Mu ini akan abortif. Ini terjadi secara konteks laboratorium bukan dalam epidemiologi," ia dalam konferensi pers, beberapa pekan lalu.(red)