Polrestabes Surabaya Bongkar Sindikat Mafia Tanah Libatkan Oknum ASN


Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Jhonny Edison Isir saat rilis pengungkapan komplotan mafia tanah di Mapolrestabes Surabaya, Kamis (10/6/2021)|ady.

Merah Putih | SURABAYA - Satreskrim Polrestabes Surabaya kembali mengungkap kasus mafia tanah. Dari pengungkapan itu tiga orang telah ditetapkan tersangka dalam kasus ini.

Dari ketiganya, salah satunya ialah seorang aparatur sipil negara (ASN). Mereka adalah Djerman Prasetyawan, (49), Subagiyo (52), dan Samsul Hadi (52), semuanya warga Kota Surabaya.

Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Jhonny Edison Isir mengatakan, dari kasus mafia tanah berhasil diungkap anggota jajaran kali ini melibatkan oknum ASN.

"Komplotan mafia tanah ini salah satunya merebut tanah seluas 17,5 hektare senilai Rp 476 miliar milik ahli waris Ikhsan di Jalan Margomulyo Indah Blok B, Kelurahan Manukan Kulon, Kecamatan Tandes, Surabaya," ujar Isir saat rilis di Mapolrestabes Surabaya, Kamis (10/6/2021).

Kombes Isir menjelaskan modusnya di antaranya dengan memalsukan dokumen objek tanah, hingga kemudian memenangkan gugatan perdata di pengadilan, serta selanjutnya dipergunakan sebagai lampiran untuk mengajukan sertifikat hak milik ke kantor pertanahan setempat.

Bahkan, Kantor Pertanahan Kota Surabaya I telah melakukan pengukuran dan menerbitkan peta bidang, sebelum akhirnya kasus mafia tanah ini terbongkar.

Kepala Kantor Pertanahan Kota Surabaya I Kartono Agustiyanto berdalih mengabulkan permohonan dari para tersangka dengan melakukan pengukuran serta menerbitkan peta bidang karena telah menerima berkas pengajuan secara formal yang dinyatakan lengkap.

"Salah satu lampiran dalam pengajuan yang mereka sertakan adalah bukti putusan pengadilan. Bagi kami sudah formal dan lengkap. Karenanya kemudian dilakukan pengukuran hingga akhirnya terbit peta bidang," tandas ia

Ketika belakangan diketahui ada pemalsuan dalam berkas pengajuan tersebut, menurut Kartono, menjadi ranah kepolisian untuk membuktikannya. Kombes Isir membenarkan ada putusan perdata dari Pengadilan Negeri Surabaya yang dijadikan lampiran pengajuan sertifikat hak milik yang diajukan oleh para tersangka.

"Kawan-kawan dari Kantor Pertanahan Surabaya I secara yuridis formilnya melihat ada putusan pengadilan, sehingga kemudian diproses melakukan pengukuran hingga menerbitkan peta bidang. Namun secara materiil, yang kemudian bisa kita ungkap, ternyata ada setingan," jelasnya.

Isir menambahkan, dalam komplotan mafia tanah yang telah ditetapkan tersangka ini, ada yang berperan sebagai pendana. Selain itu, Subagiyo, salah satu tersangka, adalah seorang ASN yang pernah menjabat sebagai perangkat kelurahan dan sekretaris camat di wilayah setempat.

Polisi masih terus mengembangkan penyelidikan perkara ini, yang diduga melibatkan banyak oknum di lingkungan pemerintahan maupun kantor pertanahan.(ton/MP6)