SPDP Kasus Penganiayaan ART Dilimpahkan ke Kejari Surabaya


Firdaus Fairuz yang juga seorang pengacara diduga melakukan penganiayaan terhadap asisten rumah tangganya hingga korban EAS mengalami luka lebam.(MMP/dok)

Merah Putih | SURABAYA - Kasus penganiayaan terhadap EAS (45), Asisten Rumah Tangga (ART) yang dilakukan seorang pengacara wanita Firdauz Fairus/FF (54). Kini, terbit Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) telah dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Surabaya.

Pelimpahan SPDP tersebut, setelah dilakukan pemeriksaan hingga penetapan tersangka di Polrestabes Surabaya.

Kasipidum Kejari Surabaya, Farriman Isandi Siregar melalui Kasubsi Pra Penuntutan Ahmad Muzaki membenarkan dalam perkara ini pihaknya sudah menerima pengiriman SPDP dari penyidik Polrestabes Surabaya pada Kamis,(11/5/2021) lalu.

"SPDP perkara ART sudah kami terima. Dan akan diteliti sama jaksa yang telah ditunjuk," ungkap Muzaki, Senin (7/6/2021).

Saat disinggung terkait jaksa yang meneliti berkas penanganan perkara di persidangan nanti. Muzaki menyebutkan Siska Christina sebagai Jaksa Penuntut Umum.

"JPU-nya Siska," katanya.

Seperti diketahui, kasus penganiyaan berawal dari Firdaus mengantarkan EAS ke lingkungan pondok sosial (Liponsos) Surabaya. Firdaus mengatakan jika asisten rumah tangganya tersebut mengalami gangguan kejiwaan.

Namun saat dirawat petugas menemukan kejanggalan pada tubuh EAS yang mengalami banyak luka lebam. Dari situ korban mengaku dianiaya oleh majikannya bahkan dipaksa memakan kotoran kucing oleh sang majikan.

Dihadapan penyidik kepolisian disebutkan bahwa motif tersangka melakukan penganiayaan tersebut lantaran merasa kesal atas pekerjaan rumah yang dilakukan oleh EAS.

EAS mulai bekerja di kediaman Firdaus sejak April 2020. Namun sejak memasuki Agustus EAS mengalami tindak kekerasan fisik yang berujung pada penahanan terhadap Firdaus.

Akibat perbuatannya, FF dijerat pasal berlapis yakni Pasal 44 U!ndang-Undang nomor 23 tahun 2004 tentang Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) dan Pasal 351 KUHP tentang penganiayaan, dengan ancaman pidana maksimal lima tahun penjara.(ton/ady)